Pikiran-pikiran itu kerap kali muncul di malam hari. Berisik sekali di saat sunyi dan sepinya malam menyapa. Beradu kuat dengan suara putaran detik jam di dinding. Sungguh sulit sekali rasanya memejamkan mata karenanya. Tidak bosan dan tak kenal lelah, ia hadir berulang kali. Tak kenal malu, ia membuat diri sering terbangun di sepertiga malam.
Pernahkah kamu merasakan hal yang sama?
Pikiran itu hadir silih berganti. Terkadang tentang masa lalu yang menghantui. Teringat trauma atau luka batin yang pernah menoreh hati. Terjebak dalam penyesalan dari kesalahan di masa lampau. Semakin ingat, semakin pilu rasanya. Semakin dipendam, semakin menyayat hati. Semakin dipusingkan, semakin meluap-luap emosi.
Lain waktu, pikiran itu hadir terkait masa depan. Iya, lumrah memang. Namun, ketika ketidakpastian merajai pikiran, rasa larut dalam kecemasan, dan hanya ada keraguan di dalam diri, apakah itu hal yang lazim?
Pikiran acap kali berbisik, Bagaimana jika kegagalan terjadi di masa depan? Bagaimana jika diri tidak mampu melalui hal-hal di masa depan? Bagaimana jika masa depan tidak sesuai harapan? Bagaimana jika tidak mampu memberikan kebahagiaan di masa depan teruntuk yang tersayang?
Pernahkah kamu merasakan hal yang sama?
Belum lagi, ketika kelamnya malam menghampiri dan berharap dapat melepas lelah dari hal-hal duniawi, namun pada kenyataannya, otak sama sekali tidak diberi jeda, alhasil terjebak dalam pikiran sendiri.
Ketakutan akan pendapat orang lain mulai merasuki. Rasanya, setiap ingin bertindak, yang terpikirkan hanya tentang: Apa yang akan mereka katakan? Akankah mereka akan mengabaikan aku? Bagaimana jika mereka menertawakan? Mengapa mereka punya kebanggaan sedangkan aku merasa tertinggal di belakang?
Tidak disadari, hal itu perlahan mengikis kepercayaan diri. Merasa kerdil menghadapi para raksasa kehidupan. Sibuk mengasihani diri sendiri. Menganggap diri adalah individu yang tidak dicintai, tidak punya kelebihan, dan tidak ada harganya.
Lagi-lagi, pernahkah kamu merasakan hal yang sama?
Overthinking. Memang benar bahwa berpikir adalah hal baik. Namun, lain halnya ketika melampaui ambang batas kewajaran. Ia tidak memandang waktu dan tak pandang bulu.
Ketika di penghujung malam berharap akan ketenangan, tetapi hanya asumsi buruk yang berlari-lari di pikiran. Ketika fisik butuh beristirahat, namun beban pikiran membuat jiwa terasa lelah dan raga terkuras. Ketika pikiran menganggur dan minim koneksi sosial, akan tetapi otak penuh dengan interaksi antara aku dan aku yang tanpa solusi. Ketika tiada yang menghardik, namun pikiran yang berlalu-lalang perlahan menyulut emosi. Ketika ingin mencapai tujuan, tapi fokus dibuat hilang tak terarah. Terkadang, semua yang berlebihan itu memang tidak baik.
Ya Rabb…
Aku tak tahu mengapa, mereka pikir aku tak apa
Aku merasa buruk, sungguh aku terpuruk
Terkurung di duniaku sendiri, hanya ingin menyendiri
Takut untuk melaju, tak tahu ke mana kuharus menuju
Mampukah aku keluar dari pikir yang tak berujung?
Mampukah aku berdamai dari hati yang berkabung?
Mampukah aku pulih dari tangis yang tak terbendung?
Hidup memang petualangan panjang yang penuh ujian. Adakalanya, kebahagiaan hadir tetapi di lain waktu, kesedihan mampir. Hidup memang penuh lika-liku dan berwarna-warni. Terkadang sanggup untuk berdiri, di lain hari hanya bisa tersungkur dan berdiam diri.
Tetapi, bukankah hidup adalah perjalanan bukan pertandingan? Bukankah hidup adalah perjuangan bukan sekadar pembuktian? Bukankah hidup lebih menyenangkan dengan memiliki harapan dan impian daripada hanya memikirkan ketidakpastian?
Lalu, bagaimana untuk dapat bebas dari perangkap pikiran? Bagaimana untuk bisa bangkit dari keterpurukan? Bagaimana untuk dapat keluar dari keterbatasan? Bagaimana untuk bisa mengatasi segala hambatan?
Maka, untuk dapat melangkah ke depan, komitmen diri harus dijalani agar pikiran tidak penuh polemik dan merasa lebih baik.
Bersandar pada Allah
Hidup ini adalah rahasia Illahi. Maka sejatinya, kembali ke pangkuan-Nya, melangkah ke depan bersama iman, dan mengingat-Nya di setiap helaan napas adalah fondasi utama yang memberikan kedamaian di hati.
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram." (QS. Ar-Ra’du: 28)
Ketika sunyinya malam yang justru dipenuhi dengan ramainya pikiran, cobalah mengisinya dengan bersimpuh sujud kepada-Nya dan menengadahkan tangan sambil melantunkan puji dan doa.
Ungkapkan seluruh perasaan karena Dialah yang tidak menghakimi. Ucapkan terima kasih atas segala limpahan nikmat karena Dialah yang memberi dan menambahkan rezeki. Mintalah kekuatan karena Dialah tempat meminta pertolongan dan tempat bersandarnya hati.
Mereka bilang hidup itu hanya sekali. Maka mari maknai setiap prosesnya dan jalani agar penuh arti.
Penuhi Diri dengan Afirmasi Positif
Ketika keraguan terhadap diri menyerang, rasa percaya diri sedikit demi sedikit menghilang, dan tiada henti membandingkan diri, maka secara perlahan mulailah untuk menyadari bahwa setiap kecemasan tidak menghasilkan suatu apa pun, setiap keraguan akan menggerogoti jiwa dan raga, dan setiap ketakutan hanyalah menjadi penghambat diri untuk dapat melangkah maju.
Luangkan waktu dan bertanyalah dalam hati: Sudahkah aku berterima kasih pada diri sendiri? Sudahkah aku berbaik hati pada diri sendiri? Sudahkah aku menggali potensi diri? Sudahkan aku mencintai diri sendiri? Sudahkan aku meyakini diri sendiri?
Apabila mulai terjebak dalam perasaan rendah diri maka cobalah untuk lapiskan tekad dan tanamkan mantra-mantra positif hingga melekat di sanubari. Ubah “Aku tak bisa” menjadi “Walau tak mudah, Aku pasti bisa”. Beritahu kepada diri bahwa ia tak sendiri. Hilangkan bibit takut dengan berbagi rasa bersama orang-orang yang mengerti, memotivasi, dan mengangkatmu lebih tinggi. Berikan penghargaan untuk sekecil apa pun pencapaian diri.
Mudah? Tentu tidak. Akan tetapi, mencoba lebih baik daripada tidak sama sekali. Seperti hujan yang membawa pelangi, perjuangan yang tiada henti akan membawa hidup lebih mudah untuk menggapai harapan dan mimpi.
Hiduplah di Masa Kini
Satu pepatah popular mengatakan “Hari kemarin adalah sejarah, hari esok adalah misteri, dan hari ini adalah anugerah”. Maka, jika tahu bahwa masa lalu sudah dilalui dan masa depan masih belum pasti, maka masihkah ingin mengabaikan hari ini? Masihkan ingin tetap terjebak di bayang-bayang masa lalu? Masihkan hanya ingin sibuk mengejar masa depan tanpa menikmati masa kini?
"Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya tetap di atas kesabaran.” (QS. Al-'Ashr: 1-3).
Bahwasanya manusia yang merugi adalah mereka yang lalai dalam memanfaatkan waktu. Mereka yang tidak menggunakan waktu luang dengan sebaik-baiknya hingga tiba-tiba datang waktu sempitnya. Mereka yang lupa menyibukkan diri dengan kebaikan sehingga disibukkan dengan kesia-siaan.
Masing-masing diri tidak dapat merubah masa lalu, pun mengetahui masa depan. Oleh karena itu, ubahlah kecemasan menjadi sebuah tindakan. Batasi energi diri hanya untuk yang berarti. Waktu tak dapat diputar kembali, nikmatilah hari ini. Perbaiki masa lalu dengan mempersiapkan masa kini untuk masa depan yang lebih baik lagi.
Temukan Kesenanganmu
Tarik napas, lalu buang secara perlahan. Relaksasi diri dapat menjadi salah satu hal yang esensial untuk dilakukan bila sesuatu sedang mengganjal dan beban pikiran kembali menjajah. Entah itu dengan berlari pagi sambil mencari paparan sinar matahari, membaca buku di waktu luang, atau hanya menikmati secangkir kopi sambil memandangi indahnya senja.
Kesenangan yang dilakukan harus mendatangkan kenyamanan sehingga beban pikiran pun teralihkan. Karena pada akhirnya, kebahagiaan untuk diri adalah sesuatu yang kita ciptakan sendiri. Semakin diri fokus melakukan kebaikan, tidak ada lagi waktu tersisa untuk penuh dengan kekhawatiran. Semakin dapat mengendalikan diri untuk hadir di masa sekarang, tidak ada lagi waktu untuk menyesali masa yang lalu dan mencemaskan masa yang akan datang.
~
Aku harap, sunyi dan heningnya malam kini tak lagi muram, tangis di hati berganti senyum yang menyelimuti, segala beban pikiran menjadi proses pembelajaran, dan impian segera menjadi kenyataan.
~
A Project with Classwriterpreneur by Panji Ramdana